“Labbaik.. Allahumma labbaik….”

(Kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu, ya Allah.)

Kalimat talbiyah itu mungkin menjadi kalimat yang paling diidamkan oleh muslim di seluruh di dunia, muslim yang belum menjejakkan kaki di Baitullah untuk mendatangi panggilan Allah dan menunaikan ibadah haji. Namun, apakah ibadah haji itu sebenarnya? Dan bagaimana itu bermula?

Pengertian Haji

Pengertian Haji
Pengertian Haji / Umroh Backpacker

Haji, secara bahasa memiliki arti “menuju” atau “bergerak ke suatu tempat.” Definisi haji dalam Islam sendiri merupakan “ibadah yang dilakukan dengan cara mengunjungi Tanah Suci Mekkah untuk melakukan tawaf, sa’i, wukuf dan rangkaian kegiatan dalam ibadah haji lainnya sebagai upaya menjalankan perintah Allah dan mendapat keridaan-Nya.”

Selain di Mekkah, beberapa kegiatan dalam rangkaian ibadah haji juga dilakukan di Arafah, Mina, dan Muzdalifah. Ibadah haji ini dilaksanakan setahun sekali, pada bulan Dzulhijah, atau sekitar bulan September-Oktober.

Ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima ini memiliki sedikit keunikkan dibandingkan rukun Islam lainnya, yakni memiliki kata-kata “jika mampu”. Kalimat “menunaikan ibadah haji jika mampu” ini memberikan pemahaman bahwa sesungguhnya ibadah haji merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam ketika mereka mampu untuk pergi ke Tanah Suci.

Mampu yang dimaksud di sini adalah mampu, baik secara fisik maupun finansial. Mampu secara fisik berarti memiliki kondisi fisik yang sehat dan bugar, sehingga dapat melakukan rangkaian kegiatan dalam ibadah haji. Sedangkan yang dimaksud dengan mampu secara finansial adalah dapat membayar biaya naik haji yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia, yang berkisar 35-40 juta rupiah (untuk haji reguler).

Biaya haji ini biasanya selalu mengalami perubahan dalam nominal. Perubahan nominal biaya haji sendiri dikarenakan adanya perubahan ongkos haji yang ditetapkan pemerintah dan juga perubahan dalam kurs dolar terhadap rupiah, karena ongkos haji yang ditetapkan pemerintah selalu dipatok pada kurs dolar sebelum dikonversikan ke rupiah.

Sebagaimana aturan dalam ibadah, haji juga memiliki aturan. Aturan dalam pelaksanaan ibadah haji ini disebut rukun haji. Rukun haji merupakan rangkaian kegiatan dalam ibadah haji yang harus dilakukan dalam ibadah haji. Semua kegiatan dalam rukun haji harus dilakukan, dan dilakukan secara berurutan. Jika ada kegiatan yang tidak dilakukan, maka ibadah haji yang bersangkutan dianggap tidak sah dan harus mengulang di waktu yang lain. Berikut hal-hal yang termasuk dalam rukun haji.

  • Melakukan ihram, yakni niat untuk melaksanakan manasik haji.
  • Melakukan Wukuf di Arafah.
  • Melakukan Tawaf Ifadhoh (kegiatan mengelilingi Kakbah sebanyak 7 kali).
  • Melakukan Sa’i (kegiatan berjalan antara Shofa dan Marwah).
  • Melakukan tahalul (mencukur rambut).

Sejarah Haji

Sejarah Haji
Sejarah Haji / Umroh Backpacker

Lalu, bagaimanakah awalnya umat Islam diminta untuk melakukan ibadah haji?

Asal mula ritual ibadah haji diyakini berawal dari masa Nabi Ibrahim As. Beliau bersama dengan anaknya, Nabi Ismail As., diperintah Allah untuk membangun Kakbah di Mekkah. Hal ini disebutkan dalam ayat Alquran, surat Al-Hajj: 26 yang berbunyi:

Dan ingatlah ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah mereka yang ruku’ dan sujud.”

Setelah selesai membangun Kakbah, Nabi Ibrahim As. kemudian kembali ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji. Beliau melaksanakan ibadah haji ini setiap tahun. Setelah Nabi Ibrahim As. wafat, kebiasaan ini kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Nabi Ismail As. Namun pada perkembangannya di masa itu, ibadah haji menjadi menyimpang. Dari yang tadinya merupakan merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah Swt. menjadi bentuk ritual penyembahan berhala. Bahkan berhala ditempatkan di dalam Kakbah. Dinding Kakbah yang tadinya polos, dijadikan penuh dengan puisi dan lukisan dengan banyak berhala yang ditempatkan di sekitarnya.

Pada masa terjadinya penyimpangan itu, pelaksanaan ibadah haji memperlihatkan bentuk yang jauh dari ajaran Islam. Pria dan wanita mengelilingi Kakbah dengan telanjang. Mereka beralasan, kondisi telanjang tersebut merupakan kondisi ketika mereka terlahir pertama kali. Dan dengan kondisi seperti itulah mereka harus menampilkan diri di hadapan Allah Swt. Ritual berdoa di dalam haji juga berubah bentuknya dengan adanya penambahan yang dibuat sendiri oleh mereka. Mereka menambahkan tepuk tangan, siulan dan tiupan tanduk pada saat mereka berdoa. Bahkan mereka membuat ritual tambahan; darah daging kurban dituangkan ke dinding Kakbah dan dagingnya digantungkan di tiang-tiang yang terdapat di sekitar Kakbah. Mereka beranggapan cara itulah yang diinginkan Allah Swt. dari ibadah kurban, dan Allah Swt. memang menginginkan daging dan darah kurban tersebut. Namun kemudian anggapan itu dibantah melalui ayat Alquran, di mana Allah Swt. berfirman dalam Al-Hajj: 37:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Penyimpangan tersebut tidak berhenti di situ. Pada saat itu, merebak perbuatan amoral di kalangan peziarah, seperti minum arak dan berzina. Mereka juga memasukkan lomba membaca puisi di dalam rangkaian ibadah haji. Bahkan kegiatan ini dijadikan sebagai kegiatan ibadah yang utama. Para penyair banyak memanfaatkan ajang ini untuk memamerkan keberanian dan kemegahan suku mereka, dan di lain sisi, menunjukkan keburukkan suku yang lain. Selain lomba membaca puisi, terdapat pula lomba kedermawanan, di mana masing-masing kepala suku akan menyediakan sajian makanan yang melimpah untuk para peziarah agar mereka dianggap dermawan dan menjadi terkenal karena “kedermawanannya” itu.

Namun di masa Nabi Muhammad Saw., ibadah haji dapat kembali menjadi seperti apa yang kita laksanakan sekarang ini. Berawal dari sejarah itu pula, kemudian kita mengenal adanya beberapa jenis haji, yakni: haji Ifrad, haji Tamattu’ dan haji Qiran.

Macam-Macam Haji

Macam-Macam Haji
Macam-Macam Haji / Umroh Backpacker

Ada tiga jenis haji berdasarkan waktu pelaksanaan umrah, yakni: Haji Ifrad, Haji Tamattu’ dan Haji Qiran.

Haji Ifrad

(haji yang dilakukan sebelum umroh)
Haji Ifrad adalah ibadah haji yang diniatkan hanya untuk melaksanakan ibadah haji. Orang yang memilih untuk melakukan haji Ifrad, berarti tidak berniat melakukan umrah pada periode haji tersebut. Ibadah umrah akan dilaksanakan setelah ibadah haji selesai dilaksanakan.

Tata cara mengerjakan haji Ifrad:
Setiba di Mekkah, jamaah langsung melakukan tawaf Qudum (tawaf pada awal kedatangan di Mekkah).

Setelah tawaf, melakukan salat 2 rakaaat di belakang Maqam Ibrahim.
Usai melaksanaan tawaf, jamaah melaksanakan sa’i di antara Shofa dan Marwah sebagai bagian dari rukun haji (tanpa melakukan tahallul).

Masuk dalam kondisi ihram hingga tanggal 10 Dzulhijjah (saat diperbolehkan untuk melakukan tahallul). Pada haji Ifrad ini, ihram dilakukan 2 kali. Yang pertama, dari miqat untuk berhaji. Yang kedua dari miqat untuk melaksanakan umrah.

Disunahkan untuk melakukan tawaf Qudum (karena tidak membayar dam). Pada ibadah haji Ifrad, jamaah tidak memiliki kewajiban menyembelih hewan kurban.

Haji Tamattu

(umrah dilakukan sebelum haji)
Haji Tamattu’ merupakan ibadah haji di mana pelaksanaannya dilakukan setelah pelaksanaan umrah. Jadi umrah dilaksanakan lebih awal. Orang yang berniat untuk melaksanakan ibadah haji Tamattu’, akan berihram untuk melaksanakan umrah pada bulan-bulan haji (Syawal, Dzul Qa’dah dan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah).

Tata cara mengerjakan haji Tamattu’:

  • Setiba di Mekkah, jamaah langsung menyelesaikan umrahnya dengan melaksanakan tawaf dan sa’i.
  • Setelah itu, jamaah melakukan tahallul dari ihramnya dengan cara mencukur rambut kepalanya.
  • Jamaah harus tetap dalam keadaan tidak berihram (dalam kondisi halal) hingga datangnya hari Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah.
  • Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah), jamaah kembali berihram untuk melaksanakan haji. Pada ibadah haji Tamattu’ ihram dilaksanakan dua kali.
  • Yang pertama, dari miqat untuk melaksanakan umrah. Begitu umrah selesai, ihram lagi dari miqat untuk melaksanakan haji.

Pada ibadah haji Tamattu’, jamaah wajib untuk menyembelih hewan kurban (berupa kambing, atau sepertujuh sapi, atau sepertujuh unta) yang dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Jika tidak menyembelih pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka kurban dapat dilaksanakan pada hari-hari Tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah).

Jika tidak mampu untuk menyembelih kurban (karena masalah finansial), jamaah dapat menggantinya dengan berpuasa selama 10 hari; dengan ketentuan: 3 hari di antaranya dilakukan di waktu haji. Pada jamaah yang harus berpuasa karena tidak membayar dam, adalah lebih baik untuk melakukan puasa pada 3 hari sebelum tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah) dan 7 hari setelah kembali ke kampung halaman.

Haji Tamattu’ merupakan haji yang paling banyak dipilih oleh para jamaah karena dianggap lebih mudah, yakni setelah selesai tawaf dan sai, langsung melakukan tahallul agar terbebas dari hal-hal yang dilarang selama ihram.

Haji Qiran

(pelaksanaan haji bersamaan dengan umrah)
Haji Qiran merupakan ibadah haji di mana pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama dengan umrah. Singkatnya, berihram untuk melaksanakan umrah dan haji sekaligus. Ihram dimulai tanpa melakukan tahallul, hingga tanggal 10 Dzulhijjah.

Tata cara mengerjakan haji Qiran:

  • Setelah ihram dan tiba di kota Mekkah, jamaah melaksanakan tawaf Qudum (tawaf pada awal kedatangan di Mekkah).
  • Setelah tawaf, lalu salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim.
  • Kemudian, jamaah mengerjakan sa’i di antara Shafa dan Marwah untuk umrah sekaligus haji. Sa’i dikerjakan tanpa melakukan tahallul. Masa ini adalah masa berihram, sehingga tetap berlaku larangan ihram (hingga datang masa tahallul pada tanggal 10 Dzulhijjah).

Untuk haji Qiran ini, jamaah wajib menyembelih hewan kurban (seekor kambing, sepertujuh sapi, atau sepertujuh unta) pada tanggal 10 Dzul Hijjah atau di hari-hari Tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzul Hijjah).

Sama seperti haji Tamattu’, haji Qiran juga terkena kewajiban untuk menyembelih hewan kurban (berupa seekor kambing, sepertujuh sapi, atau sepertujuh unta). Kewajiban kurban ini dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah atau pada hari-hari tasyriq. Sama halnya dengan haji Tamattu’, pada haji Qiran, jamaah wajib untuk berpuasa jika tidak melaksanakan kurban, yakni selama 10 hari. Sangat dianjurkan untuk mengerjakan puasa selama 3 hari sebelum tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah) dan 7 hari setelah kembali ke kampung halaman. Sama seperti yang diatur pada haji Tamattu’.

Sebelum jamaah melaksanakan ibadah haji seperti yang dijelaskan di atas, tentunya jamaah harus mengetahui kapan dia akan berada di Tanah Suci. Karenanya dia harus mengetahui jadwal keberangkatanya ke Tanah Suci untuk membuat persiapan sematang mungkin. Karena itulah, jamaah perlu juga mengetahu hal-hal yang berkaitan dengan jadwal keberangkatan haji.

Porsi Haji dan Mengecek Jadwal Keberangkatan Haji dari Kemenag Haji

Porsi Haji dan Mengecek Jadwal Keberangkatan Haji dari Kemenag Haji
Porsi Haji dan Mengecek Jadwal Keberangkatan Haji dari Kemenag Haji / Umroh Backpacker

Ketika seseorang telah mendaftar haji, hal yang sangat ingin dia ketahui adalah jadwal keberangkatannya. Terkadang jadwal keberangkatan tidak selalu diinformasikan, dan bahkan terkadang berubah. Karenanya, sebagai calon jamaah haji, Anda harus mengetahui cara mengecek jadwal keberangkatan haji.

Berikut ini adalah hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk mengetahu jadwal keberangkatan haji:

  • Saat mendaftar, Anda akan mendapat bukti setoran awal BPIH. Di sana tercantum nomor porsi haji.
  • Jika Anda belum mendapatkan nomor porsi tersebut, maka Anda wajib menanyakannya kepada biro travel atau pihak yang mengurusi keberangkatan haji Anda. Nomor porsi itu sendiri merupakan bukti sah bahwa Anda merupakan jamaah yang terdaftar secara resmi Di Kementerian Agama. Namun nomor porsi ini hanya diberikan pada haji kuota. Calon jamaah haji nonkuota tidak memiliki nomor porsi.
  • Masuk ke kementerianagama.go.id. Klik “Basis Data”. Masukkan nomor porsi haji Anda (yang tertera di bukti setoran awal PBIH). Di bawah kotak tempat Anda memasukkan nomor porsi, terdapat keterangan bahwa jadwal keberangkatan dapat berubah sesuai dengan regulasi. Berdasarkan keterangan tersebut, Anda sebagai calon jamaah haji harus bersabar untuk mengetahui secara pasti jadwal keberangkatan haji, karena banyak faktor yang memengaruhi jadwal keberangkatan haji. Selain dengan melakukan pengecekkan di situs Kemenag, Anda juga dapat mengetahui perkiraan jadwal keberangkatan haji tersebut dengan cara mendatangi Kantor Wilayah Kemenag saat Anda mendaftar haji, atau dengan menghubungi Call Center Haji Kemenag di 021-500425.

Cara Daftar Haji

Cara Daftar Haji
Cara Daftar Haji / Umroh Backpacker

Anda telah mengetahui pengertian haji, sejarah haji, macam-macam haji, dan cara mengecek keberangkatan haji Anda di Kemenag. Hal apalagi yang perlu Anda ketahui? Diasumsikan bahwa Anda telah memiliki sejumlah dana untuk membayar biaya haji (minimal sebesar setoran awal), maka yang perlu Anda lakukan adalah langsung mendaftar haji. Berikut hal-hal yang perlu Anda ketahui terkait cara pendaftaran haji.

Di Indonesia, penyelenggaraan haji terdiri dari dua jalur; jalur Haji Reguler dan Jalur Khusus. Haji Reguler diselenggarakan oleh Pemerintah melalui Kementerian Agama, sedangkan Haji Khusus (atau sering disebut Haji Plus) diselenggarakan oleh pihak swasta.

Perbedaan kedua jenis haji ini terletak pada:

  • Cara menyetor uang pendaftaran
  • Biaya haji
  • Fasilitas yang didapat selama di Tanah Suci
  • Lama tinggal di Tanah Suci (Haji Khusus hanya akan menginap sekitar 25 hari, sedangkan Haji Reguler akan menginap sekitar 40 hari).

Jika Anda merasa cukup dengan Haji Reguler, maka Anda dapat mendaftar sebagai calon Haji Reguler dengan cara:

Membuka Rekening Haji

Ketika Anda memutuskan untuk membuka rekening haji, pastikan Anda datang pada bank yang ditunjuk sebagai Bank Penerima Setoran Biaya Haji. Beberapa bank yang merupakan Bank Penerima Setoran Haji adalah BRI, BRI Syariah, BNI, Bank Muamalat, Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, BTN, Bank Jateng, Bank CIMB dan Bank Mega Syariah.

Setoran awal dan saldo minimum dapat berbeda di tiap bank, karena bergantung pada regulasi mereka. Namun tabungan haji pasti memiliki ciri yang sama di tiap bank, yakni: tidak mendapatkan bunga/bagi hasil, tidak dikenakan biaya administrasi dan tidak diberikan atm.

Ketika jumlah saldo di rekening tabungan Haji Anda telah mencapai minimal 25 juta rupiah, Anda dapat mendaftarkan diri Anda ke Kementerian Agama untuk mendapatkan SPPH dan Nomor Porsi.

Membuat Surat Keterangan Sehat

Anda bisa mendapatkan Surat Keterangan Sehat ini di puskesmas. Setelah Anda mendapatkan Surat Keterangan Kesehatan, Anda harus membawa surat itu dan buku tabungan (jika jumlah saldo telah mencapai minimal 25 juta) ke Kantor Wilayah Kementerian Agama terdekat, atau yang berada di wilayah Anda.

Membuat Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH) di Kantor Kementerian Agama

Untuk mendapatkan Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH) ini, Anda dapat mendatangi Kantor Kementerian Agama Kota atau Kabupaten. Jangan lupa bawa buku tabungan Anda sebagai bukti Anda telah melunasi minimum setoran awal. Di sana Anda akan diberikan formulir SPHH yang yang harus diisi. Isi formulir tersebut dengan keterangan selengkap-lengkapnya.

Mengajukan Nomor Porsi di Bank

Sesudah mendapat lembar Surat Pendaftaran Pergi Haji atau SPPH dari Kementrian Agama setempat, Anda harus pergi ke Bank tempat Anda menyetor dengan membawa SPPH tersebut untuk mendapatkan porsi. Jelaskan pada Customer Service bank bahwa Anda ingin mendapatkan nomor porsi untuk keberangkatan haji. Pastikan uang dalam tabungan Anda sudah mencapai 25 juta rupiah, karena jika kurang dari itu Anda belum berhak mendapatkan porsi haji.

Setelah Anda mendapatkan SPPH dari kantor Kementerian Agama di wilayah tempat Anda tinggal, Anda bawa SPPH itu ke bank tempat Anda menyetor tabungan haji untuk mendapatkan nomor porsi. Sekali lagi pastikan saldo tabungan Anda adalah minimal 25 juta rupiah. Jika saldo masih di bawah itu, Anda dianggap tidak berhak untuk mendapatkan nomor porsi.

Ketika nomor porsi dan bukti setoran awal BPIH telah ada di genggaman, Anda harus kembali ke Kantor Kementerian Agama dengan membawa berkas berikut:

  • Bukti setoran awal BPIH (yang Anda peroleh dari bank).
  • 1 lembar Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH).
  • Foto wajah tanpa menggunakan kacamata. Latar belakang foto putih. Jumlah foto yang diminta biasanya 12 lembar, terdiri dari 10 lembar ukuran 3 X 4, dan 2 lembar ukuran 4 X 6.
  • Salinan (copy) Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas sebanyak 4 lembar.
  • Salinan (copy) Akta Kelahiran/Buku Nikah/Ijazah sebanyak 2 lembar.
  • Salinan (copy) Kartu Keluarga sebanyak 2 lembar.
  • Salinan (copy) KTP.

Semua proses pendaftaran tersebut tidak dikenakan biaya. Begitu Anda telah terdaftar, selalu cek jadwal keberangkatan haji Anda di www.kemenag.go.id. Pastikan Anda melunasi biaya haji sebelum keberangkatan (sesuai regulasi yang dikeluarkan Kementerian Agama), agar keberangkatan haji Anda tidak dibatalkan.

Jika jalur Haji Reguler adalah seperti dijelaskan di atas, maka jalur Haji Khusus memiliki beberapa perbedaan. Jika Anda tertarik dengan jalur Haji Khusus, berikut adalah cara pendaftarannya:

Menyetor dana setoran awal BPIH ke Kementerian Agama sejumlah US$ 4000.
Setoran ini biasanya di urus oleh biro travel calon haji yang bersangkutan. Karenanya, jika Anda mendaftar untuk Haji Khusus (Haji Plus) di biro travel, pastikan biro travel Anda memang akan mengurus pendaftaran haji tersebut.
Setelah pendaftaran tersebut, Anda akan menerima salinan bukti setoran dalam waktu 3-14 hari kerja.

Sekitar 1 bulan dari waktu mendapatkan Surat BPIH, Anda dapat mengecek jadwal keberangkatan haji Anda secara online dengan cara mengakses situs Kementerian Agama (kementerianagama.go.id). Klik “Basis Data” dan masukkan nomor porsi yang tertera pada surat BPIH tersebut.
Pastikan Anda melunasi biaya Haji Khusus Anda ke biro travel Anda pada waktu yang ditentukan, agar Anda dapat berangkat haji pada waktu yang telah dijadwalkan.

Itulah sebagian info tentang haji dan hal-hal yang perlu Anda persiapkan untuk berangkat haji ke Tanah Suci. Apapun jenis haji yang Anda pilih, pastikan bahwa Anda telah siap secara fisik dan mental untuk menunaikan panggilan Allah. Semoga info yang disajikan di atas dapat membantu Anda mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan Allah Swt. dan menjadi haji yang mabrur. Aamiin.

Mempersiapkan Haji: dari Niat Hingga Berangkat

Mempersiapkan Haji: dari Niat Hingga Berangkat
Mempersiapkan Haji: dari Niat Hingga Berangkat / Umroh Backpacker

Rasanya hampir semua umat Islam setuju: berangkat haji bukan cuma perkara niat. Mampu tak mampu, sebisa mungkin, niat yang satu ini dapat dituntaskan. Banyak yang begitu mendamba, sekalipun harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk untuk pergi ke Tanah Suci. Bagi mereka yang mampu, tentu mudah saja. Namun, bagaimana dengan yang tidak?

Menabung menjadi salah satu kuncinya. Namun, cara itu pun kerap tak efektif—karena besarnya dana yang harus disiapkan dan dikeluarkan sekaligus. Belum lagi, soal perintilan yang harus dipenuhi, mulai dari biaya pengajian, pakaian dan perlengkapan, dana darurat, biaya oleh-oleh, hingga kemungkinan biaya haji yang terus-menerus naik tiap tahunnya. Tanpa konsistensi, bisa saja biaya untuk mencukupi segala kebutuhan, justru tak kunjung terpenuhi.

Cara lain pun dipilih untuk menyiasati pembayaran biaya haji yang tergolong besar, yaitu dengan tabungan haji. Konsepnya sebetulnya sama seperti mencicil. Anda akan “dipaksa” menyetorkan uang dalam jumlah tertentu, hingga nilainya cukup untuk ongkos naik haji (biasanya ditetapkan dalam jangka waktu tertentu pula). Cara ini sendiri dinilai lebih aman dan tidak memberatkan calon jemaah haji (meskipun memiliki penghasilan yang terbilang pas-pasan).

Namun, harus diketahui, mempersiapkan keberangkatan haji sendiri bukan cuma soal biaya. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus Anda perhatikan dalam mempersiapkan ibadah haji.

Tabungan Haji

Tabungan Haji
Tabungan Haji / Umroh Backpacker

Menghitung Biaya Haji

Telah disebutkan sebelumnya, adanya inflasi memungkinkan biaya haji cenderung naik tiap tahunnya. Biaya itu sendiri mencakup beragam keperluan di Tanah Suci, seperti harga tiket pesawat dan akomodasi, pajak, pelayanan calon jemaah, konsumsi, hingga uang saku. Harus diingat, harga/angka yang harus disiapkan di sini tidak selalu sama—bergantung pada daerah pemberangkatan, serta jasa pelayanan yang digunakan.

Ongkos naik haji adalah satu hal. Di luar itu, ada pula beberapa biaya yang harus dipertimbangkan (indirrect cost). Pada umumnya, mereka yang memilih mempersiapkan biaya haji dengan menggunakan fasilitas tabungan haji akan lebih tenang—sebab indirrect cost akan ditanggung oleh pihak bank.

Jenis-jenis Tabungan Haji

Ada dua tipe ongkos naik haji yang bisa Anda gunakan—selanjutnya disingkat ONH, yakni ONH Reguler dan ONH Plus. Apa sajakah perbedaannya?

Dari segi biaya, memilih ONH Plus—mengharuskan Anda membayar biaya dua kali lipat lebih mahal ketimbang ONH Reguler. Tentu saja, biaya tersebut berbanding lurus dengan fasilitas-fasilitas lain yang bisa Anda dapatkan—seperti biaya kebutuhan selama di Tanah Suci (akomodasi dan konsumsi); fasilitas pemondokan yang berjarak lebih dekat (sehingga Anda lebih mudah mencapai lokasi-lokasi penting); masa tunggu dalam ibadah haji (20 hari), dan fasilitas lainnya.

Namun, bila dana Anda terbatas, disarankan untuk tidak memaksakan diri menggunakan ONH Plus. Perhatikan lagi kondisi dan kemampuan keuangan Anda. Toh, dengan ONH Reguler pun Anda tetap bisa menjadi haji yang mabrur, bukan?

Memilih Bank

Pastikan Anda mendatangi dan mengikuti program dari bank yang kompeten dan tepercaya. Memang, di Indonesia, tidak semua bank memiliki produk tabungan haji. Namun, Anda bisa memilih bank Syariah (Bank Mandiri Syariah, Bank BNI Syariah, Bank BRI Syariah, Bank Niaga Syariah, Bank Muamalat, dsb); bisa juga memilih bank konvensional yang juga punya divisi Syariah (Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI, Bank Niaga, Bank DKI, dsb). Masing-masing tentu punya manfaat dan kelebihan yang ditawarkan, yang bisa dipertimbangkan dan disesuaikan terlebih dulu dengan kemampuan finansial Anda.

Adapun salah satu kelebihan dari program tabungan haji, adalah terhubung langsung dengan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementrian Agama. Nah, dengan sistem ini, jika Anda sudah memenuhi syarat biaya—biasanya nama Anda akan langsung terdaftar dan mendapatkan nomor urut kursi haji. Memang, meski sudah mendapatkan nomor urut, Anda masih harus terus menabung. Namun setidaknya, Anda sudah memiliki kuota/jatah untuk naik haji—yang bila tidak disegerakan, bisa saja mencapai masa tunggu hingga lebih dari lima tahun.

Beberapa bank saat ini juga menyediakan fasilitas dana talangan. Dana talangan di sini—yakni semacam utang yang bisa dipinjam untuk membayar ONH. Sistemnya, Anda tinggal menyetorkan dana (minimal 30% dari total ONH), lalu bank akan menalangi sisanya sesuai kesepakatan. Dengan begitu, Anda bisa langsung mendapatkan jatah naik haji—meski sebelum berangkat, Anda diwajibkan untuk melunasi utang ini terlebih dulu.

Jumlah Setoran

Biasanya, tabungan haji berkisar pada nominal Rp25 juta. Jumlah ini, tentu saja bisa dicicil melalui setoran minimal yang ditetapkan oleh masing-masing bank. Namun, harus diingat, cepat-lambatnya setoran juga memengaruhi waktu dan nomor urut Anda berangkat haji.

Nah, sebagai biaya tambahan atau untuk berjaga-jaga, Anda juga bisa menentukan setoran tambahan; atau memanfaatkan instrumen investasi lainnya, seperti emas/saham/reksadana—tentunya setelah disesuaikan dengan kemampuan finansial Anda.

Jangan lupa, hal paling penting di sini adalah kedisiplinan. Diperlukan komitmen tinggi saat menyetorkan dana setiap bulannya.

Persiapkan Diri

Persiapkan Diri
Persiapkan Diri / Umroh Backpacker

Keberangkatan haji bukan hanya soal mempersiapkan biaya, melainkan juga perlu kesiapan batin. Bagaimanapun, niat haji—sebuah keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. merupakan hal yang penting—sebab menjadi kunci baik atau tidaknya sebuah ibadah—termasuk di sini: ibadah haji. Dalam perjalanannya, niat haji sendiri terkait erat dengan masalah ihram (niat ikhlas di dalam hati). Berikut adalah hal-hal terkait persiapan haji yang wajib Anda ketahui.

Rukun Haji

Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji
Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji / Umroh Backpacker

Merupakan kegiatan yang harus dilakukan dalam menunaikan ibadah haji. Dikatakan “harus” sebab bila tidak dikerjakan; maka hajinya akan dianggap tidak sah. Berikut adalah rukun haji yang wajib dilakukan:

Ihram

Pernyataan mulai mengerjakan ibadah haji dengan memakai pakaian ihram, disertai niat haji atau haji di Miqat Makani.

Wukuf

Dilakukan di Arafah—yakni dengan cara berdiam diri, zikir, dan berdoa—pada tanggal 9 Zulhijah (waktu zuhur), hingga tanggal 10 Zulhijah (sebelum subuh)—baik dalam keadaan suci maupun tidak suci pada malam Iduladha. Adapun haji tanpa wukuf dianggap tidak sah, dan harus diulang lagi pada tahun berikutnya.

Tawaf Ifadah

Mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali—pada tanggal 10 Zulhijah. Selama putaran perjalanan, Tawaf Ifadah diikuti pula dengan berzikir dan berdoa kepada Allah Swt.

Sa’i

Berjalan atau berlari-lari kecil antara bukit Shafa ke bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Proses Sa’i sendiri dilakukan setelah Tawaf Ifadah.

Tahallul

Bercukur atau menggunting rambut setelah selesai melaksanakan Sa’i.

Tertib

Mengerjakan kegiatan di atas, sesuai urutan, tidak ada yang tertinggal, dan menyeluruh.

Wajib Haji

Wajib Haji
Wajib Haji / Umroh Backpacker

Merupakan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji—sebagai pelengkap rukun haji. Nah, jika salah satu dari wajib haji ini ditinggalkan, maka hajinya memang akan tetap sah—namun harus membayar dam (denda).

Dalam prosesnya, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang, hingga ia diwajibkan untuk melaksanakan haji.  Ketika seseorang tidak memenuhi salah satu dari syarat-syarat tersebut, maka ia dianggap belum wajib menunaikan haji. Adapun syarat melakukan haji adalah sebagai berikut:

  • Beragama Islam.
  • Berakal.
  • Dewasa, atau sudah melalui masa akil balig.
  • Orang bebas/merdeka (bukan budak).
  • Mampu, baik dalam hal biaya, keamanan, kesehatan, dan jaminan nafkah bagi keluarga yang ditinggal berhaji.
  • Waras atau sehat secara mental.

Setelah membaca syarat calon jemaah haji, berikut adalah beberapa hal yang termasuk dalam wajib haji.

  • Niat Ihram—untuk haji atau haji dari Miqat Makani; dilakukan setelah berpakaian ihram.
  • Mabit (bermalam) di Muzdalifah—dilakukan pada tanggal 9 Zulhijah, dalam perjalanan dari Arafah ke Mina. Adapun waktu bermalam ini berlangsung hingga setelah salat subuh—atau sebelum matahari terbit.
  • Jamrah Aqabah—dilakukan pada tanggal 10 Zulhijah. Tujuh butir kerikil dilontarkan/dilemparkan berturut-turut sembari mengangkat tangan. Adapun setiap kali melempar kerikil, jemaah akan berkata, “Allahu Akbar, Allahummaj ‘alhu hajjan mabruran wa zanban magfura(n)”.
  • Mabit (bermalam) di Mina—pada hari Tasyrik; yakni tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah.
  • Melontar jamrah Ula, Wustha, dan Aqabah—pada hari Tasyrik; yakni tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah.
  • Tawaf Wada’—dilakukan sebelum meninggalkan kota Mekkah. Disebut juga tawaf perpisahan.

Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji

Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji
Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji / Umroh Backpacker

Melakukan ihram dari miqat yang telah ditentukan

Bisa dimulai sejak awal bulan Syawal—yakni dengan mandi sunah, berwudu, mengenakan pakaian ihram, dan berniat haji, dengan mengucapkan, “Labbaik Allahumma hajjan”—yang berarti “Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk berhaji.”

Setelahnya, jemaah akan langsung berangkat menuju Arafah, dengan terlebih dulu membaca talbiah atau rangkaian doa haji untuk menyatakan niat, “Labbaik Allâhumma labbaik, labbaik lâ syarîka laka labbaik, inna al-hamda, wa ni’mata laka wa al-mulk, lâ syarîka laka”—yang berarti “Aku datang ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu; Aku datang, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang; Sesungguhnya segala pujian, segala kenikmatan, dan seluruh kerajaan adalah milik Engkau; tiada sekutu bagi- Mu”.

Wukuf atau berdiam diri di Arafah

Dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yakni salat jamak taqdim dan qashar zuhur-asar, berdoa, berzikir bersama, membaca Alquran, salat jamak taqdim dan qashar magrib-isya.

Di sini, yang terpenting adalah berdoa; dilakukan sambil mengangkat tangan. Doa apa saja bebas—dan tetaplah berdoa hingga matahari tenggelam.

Mabît di Muzdalifah

Waktunya berkisar setelah tengah malam, hingga sebelum matahari terbit (subuh), dengan waktu sesaat setelah tengah malam, hingga sebelum matahari terbit (subuh). Setibanya di Muzdalifah bisa langsung salat magrib dan isya; dengan jama’ takhir dan qasar—magrib yang dilakukan di waktu isya tetap sebanyak tiga rakaat, dan isya sebanyak dua rakaat.

Setelahnya, Anda bisa mengambil batu kerikil sejumlah 49 atau 70 butir untuk melempar jamrah di Mina (sebenarnya jemaah juga dibolehkan untuk memungut batu berukuran biji kacang di mana saja—entah di Mina atau perjalanan menuju Mina); melakukan salat subuh di awal waktu—yang dilanjutkan dengan berangkat menuju Mina.

Melontarkan jamrah ‘aqabah

Dilakukan di bukit Aqabah—pada tanggal 10 Zulhijah; yakni dengan tujuh butir kerikil, seusai matahari terbit. Ketika melontarkan—jadikan Mekkah ada di sebelah kiri, dan Mina di sebelah kanan.

Lemparkan batu sembari mengucap “Allah Akbar”—dan usahakan agar lemparan masuk ke dalam kolam. Jika meleset, lemparan bisa diulang kembali.

Tahallul

Tahallul awal, bisa dilaksanakan setelah selesai melontarkan jamrah ’aqabah—dengan cara mencukur atau memotong rambut, minimal sebanyak tiga helai. Bagi wanita, memotong rambut bisa dilakukan dengan gunting; setidaknya dengan ukuran sekitar satu ruas jari.

Setelah tahallul, jemaah boleh mengenakan pakaian biasa dan melakukan seluruh hal yang dilarang selama ihram (akan dijelaskan di poin selanjutnya)—kecuali berhubungan seksual.

Tawaf Ifadah

Lakukan tawaf sebanyak tujuh putaran, lalu lanjutkan dengan salat sunah sebanyak dua rakaat. Setelahnya, Anda bisa pergi atau mendatangi keran-keran air zam-zam untuk menyiram kepala, dan minum sebanyak-banyaknya.

Sesudahnya, kembalilah untuk mencium Hajar Aswad, atau lambaikan tangan pada garis lurus dengan Hajar Aswad. Jemaah yang belum menunaikan tawaf Ifadah, maka harus melakukan kembali tawaf Ifadah dan Sa’i, dilanjutkan dengan tawaf Wada’ sebelum meninggalkan Mekkah dan pulang ke daerah asal.

Mabît di Mina

Kembalilah ke Mina untuk bermalam selama dua atau tiga hari. Selama tiga hari tersebut, salat zuhur, asar, magrib, dan isya dikerjakan secara qasar.

Setelahnya, jemaah berangkat ke tiga jamrah untuk melontar—dengan mengambil batu di mana saja, sebanyak 21 buah. Pergilah ke tempat pelemparan dan lempar tiga jamrah tersebut, dimulai dari Jamrah Shughra (dekat Masjid Khoif), Jumarah Wustho, dan Jamrah Kubro, sebanyak tujuh lemparan/tujuh kali.

Rangkaian kegiatan ibadah haji sebetulnya telah selesai seiring usainya melontarkan jamrah. Jemaah diwajibkan meninggalkan Mina dan kembali ke Mekkah pada tanggal 12 Zulhijah. Bila ada jemaah yang masih berada di Mina ketika magrib, maka ia harus bermalam kembali.

Tawaf Wada’

Lakukan tawaf Wada’—namun dengan menggunakan pakaian biasa. Anda bisa berdoa di Multazam (tempat antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah) sebelum keluar dari Masjidil Haram. Berdoalah sebanyak-banyaknya—tanpa keharusan mengangkat tangan.

Sampailah pada akhir dari tata cara haji. Nantinya, begitu tiba di daerah asal, disarankan untuk jangan langsung ke rumah, melainkan terlebih dulu mengunjungi masjid untuk melakukan salat.

Hal-hal yang Tidak Boleh dilakukan Saat Menunaikan Ibadah Haji

Hal-hal yang Tidak Boleh dilakukan Saat Menunaikan Ibadah Haji
Hal-hal yang Tidak Boleh dilakukan Saat Menunaikan Ibadah Haji / Umroh Backpacker

Berikut adalah beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat menunaikan ibadah haji, yakni ketika seseorang sudah mengenakan pakaian ihram, dan sudah berniat melakukan ibadah haji:

  • Melakukan hubungan seksual—atau apapun yang bisa mengarah pada perbuatan/hubungan seksual.
  • Melakukan maksiat/perbuatan tercela.
  • Bertengkar.
  • Pada kaum pria, dilarang mengenakan pakaian dengan jahitan/berjahit dan menggunakan tutup kepala.
  • Bagi kaum wanita, dilarang menutup muka dan dua telapak tangan.
  • Memakai parfum atau wewangian; termasuk di antaranya menggunakan pakaian yang dicelup dan mempunyai bau harum.
  • Memaki khuff (kaus kaki atau sepatu yang menutupi mata kaki).
  • Melakukan pernikahan atau akad nikah.
  • Memotong kuku.
  • Mencukur atau mencabut rambut atau bulu badan yang lain. Hal ini baru boleh dilakukukan setelah selesai melaksanakan Sa’i.
  • Membunuh binatang buruan dan/atau memakan daging binatang buruan.
  • Melontar Jamrah Aqobah ketika hari raya.
  • Tawaf yang diiringi dengan Sa’i.

DAFTAR ISTILAH

Daftar Istilah
Daftar Istilah / Umroh Backpacker

Miqat

Merupakan batas waktu dan tempat melakukan ibadah haji dan haji. Miqat sendiri terdiri atas:

Miqat Zamani—kapan ibadah haji sudah boleh dilaksanakan. Biasanya, ditentukan berdasarkan kesepakatan para ulama yang bersumber dari sunah Rasulullah Saw., yakni jatuh pada bulan Syawal, Zulkaidah, hingga tanggal 10 Zulhijah.

Miqat Makani—dari tempat mana ibadah haji sudah boleh dilaksanakan. Adapun tempat-tempat untuk Miqat Makani, meliputi:

  • Zulhulaifah atau Bir-Ali—berjarak 450 km dari Mekkah. Diperuntukkan bagi orang yang datang dari arah Madinah.
  • Al-Juhfah atau Rabiq—berjarak 204 km dari Mekkah. Diperuntukkan bagi orang yang datang dari arah Suriah, Mesir, dan wilayah-wilayah Magrib.
  • Yalamlan—sebuah gunung yang letaknya 94 km di sebelah selatan Mekkah. Diperuntukkan bagi orang yang datang dari arah Yaman.
  • Oarnul Manazir—berjarak 94 km di timur Mekkah. Diperuntukkan bagi orang yang datang dari arah Nejd.
  • Zatu Irqin—berjarak 94 km sebelah timur Mekkah. Diperuntukkan bagi orang yang datang dari arah Irak.

Ihram

Merupakan niat melaksanakan ibadah haji dengan mengenakan pakaian ihram. Adapun aturan pakaian ihram, yakni:

Pria—dua helai pakaian tak berjahit. Satu untuk menutup badan bagian atas, dan satunya lagi untuk menutup badan bagian bawah. Kepala tidak ditutup, dan memakai alas kaki yang tidak menutupi mata kaki.

Wanita—kain berjahit yang menutup seluruh tubuh, kecuali wajah.

Sunah Ihram
Memotong kuku, kumis, rambut ketiak, rambut kemaluan, dan mandi. Setelahnya, lakukan salat sunah ihram 2 rakaat (sebelum ihram), membaca talbiah, selawat, dan istigfar (setelah ihram dimulai).

Tawaf

Mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali. Dimulai dari arah yang sejajar dengan Hajar Aswad, di mana Kakbah selalu ada di sebelah kiri (berputar berlawanan arah jarum jam).

Adapun syarat melakukan tawaf yakni: suci dari hadas besar, hadas kecil, dan najis.

Beberapa jenis tawaf:

Tawaf Ifadah
Tawaf sebagai rukun haji. Apabila ditinggalkan, maka hajinya menjadi tidak sah.

Tawaf Ziyarah
Tawaf kunjungan. Tawaf yang dilakukan ketika baru tiba di kota Mekkah (tawaf qudum).

Tawaf Sunah
Tawaf yang bisa dilakukan kapan saja.

Tawaf Wada’
Tawaf perpisahan. Tawaf yang dilakukan sebelum meninggalkan Mekkah—setelah jemaah selesai menunaikan seluruh rangkaian ibadah haji.

Sa’i

Kegiatan berjalan dari bukit Shafa ke bukit Marwah sebanyak tujuh kali bolak-balik. Adapun beberapa syarat dilakuaknnya Sa’i, meliputi:

  • Seluruh perjalanan dilakukan secara menyeluruh, tidak boleh ada jarak yang tersisa.
  • Dimulai dari bukit Shafa, dan berakhir di bukit Marwah.
  • Dilakukan setelah tawaf, dan sebanyak tujuh kali perjalanan.

Haji Akbar

Ditujukan bagi seorang haji yang wukufnya jatuh pada hari Jumat. Namun, ada beberapa pendapat para ulama—yakni yang mendefinisikan haji akbar atau haji besar, sebagai orang yang:

  • Haji pada hari wukuf di Arafah.
  • Haji pada hari nahar.

Haji Mabrur

Ditujukan pada seseorang, di mana seluruh rangkaian ibadah hajinya bisa dilaksanakan dengan benar, ikhlas, tidak dicampur dosa, menggunakan biaya halal, dan yang paling penting: ia menjadi orang yang lebih baik setelah melaksanakan ibadah haji.

Jamrah

Merupakan bahasa Arab dari kata “tiang”. Dalam proses jamrah, jemaah haji akan melempar kerikil sebanyak tujuh kali—ke arah tiang batu di kota Mina. Adapun proses pelemparan ini diiringi dengan doa-doa haji (yang lebih baik lagi bila sudah dihafalkan).

Itulah beberapa hal terkait persiapan ibadah haji—mulai dari mempersiapkan tabungan hingga keberangkatan. Semoga bisa dijadikan panduan.